Kamis, 23 September 2021

Perbedaan Haji dan Umroh, Dalil, hingga Persamaannya



Salah satu ibadah yang paling diagungkan dalam Islam adalah haji dan umroh. Keduanya merupakan hal yang selalu ditunggu dan diharapkan oleh banyak umat Islam. Tak salah, jika mereka rela menabung untuk dapat melaksanakan salah satu atau kedua ibadah ini. Meskipun hampir sama, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar dari segi waktu ibadah, juga rukun dan kewajiban yang ada di dalamnya. Lalu apa saja perbedaan yang lebih mendalam soal haji dan umroh? Berikut UMRAH FAMILY JKT akan jelaskan secara terperinci. 



Pengertian Haji dan Umroh

Haji dan umroh adalah ibadah yang sangat dimuliakan dalam Islam. Keduanya memiliki keistimewaan dan keutamaannya masing-masing. Haji maupun orang dilakukan di tempat terbaik, yakni Mekkah. Tak hanya itu, haji dan umroh juga memiliki kesamaan, seperti halnya baju yang digunakan, hal yang tidak boleh dilakukan, hingga beberapa pendapat ulama akan hukumnya.

Namun, meski memiliki kesamaan, dari segi pengertian, keduanya memiliki arti yang berbeda. Berikut penjelasannya.

• Pengertian Haji

Jelaskan apa pengertian haji? Dalam bahasa Arab, haji berarti menyengaja atau mengunjungi. Makna yang lebih luas lagi adalah menyengaja datang ke Baitullah secara fisik dan jiwa untuk menunaikan amalan-amalan tertentu, dengan mengikuti syarat tertentu, dan pada waktu tertentu, yakni pada bulan haji.

Selain itu, haji juga merupakan rukun Islam yang kelima, yang bermakna bahawa haji merupakan salah satu ibadah wajib bagi seorang muslim yang mampu melaksanakannya. Beda halnya dengan umroh, menurut bahasa, haji adalah al-qasdhu, yang artinya menuju sesuatu.

Menurut syariat, haji memiliki makna yaitu beribadah kepada Allah dengan mengerjakan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, dan seluruh manasik haji di Mekkah al Mukarramah pada bulan haji dengan syarat tertentu berdasarkan Al Quran dan sunnah Nabi yang dianggap sahih.

• Pengertian Umroh

Sementara, untuk umroh sendiri secara bahasa dipahami sebagai berziarah. Dalam artian, berziarah ke Baitullah untuk melaksanakan amalan tertentu, mulai dari thawaf, sa’i, dan juga bercukur. Berbeda dengan haji, umroh dapat dikerjakan kapanpun dalam setahun tak perlu menunggu waktu tertentu.



Secara definisi, umroh merupakan salah satu perjalanan yang paling dicita-citakan seluruh umat muslim di dunia. Saat umroh pun umat muslim dapat beribadah dan bersujud dengan khusyuk di rumah Allah.

Setelah mengetahui pengertian keduanya, lalu apa persamaan dan perbedaan antara haji dan umroh? Simak pembahasan berikut ini.

Perbedaan Haji dan Umroh



Setelah dilhat dari pengertian haji dan umroh, tentu kamu sudah paham perbedaan kedua ibadah ini. Meski ada yang sama dari beberapa hal, namun juga dibedakan dari soal hukum yang berlaku, waktu pelaksanaan dan syarat yang harus dipenuhi. Jika kamu sedang mencari penjelasan untuk menjawab pertanyaan seputar “jelaskan perbedaan haji dan umrah”, kamu bisa cek informasinya di bawah ini.

1. Perbedaan Haji dan Umroh Berdasarkan Hukumnya

Perbedaan antara haji dan umroh yang pertama beserta dalilnya adalah berdasarkan hukumnya. Kalau dilihat dari sudut pandang hukum menunaikan kedua ibadah ini, haji dan umroh, terdapat dua perbedaan (ikhtilaf) ulama terdahulu. Ada yang punya pemahaman bahwa hukum umroh sama dengan haji, yaitu wajib bagi yang mampu. Hal ini diambil dari surah Ali Imran ayat 97,


وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imron: 97)


Dan ada juga riwayat dari Ibnu Umar, yang berbunyi:


“Islam didirikan atas lima hal, bersaksi tiada tuhan selain Allah sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, melaksanakan zakat, haji ke Baitullah dan puasa Ramadan,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).


Sedangkan ulama yang menyatakan umroh wajib, mengambil pendapat dari tafsir Surah Al-Baqarah:196,


…وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ

Artinya: Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh untuk Allah!


Beberapa dalil di atas menjelaskan tentang wajibnya haji dan umroh. Kalimat dalam dalil-dalil tersebut menggunakan kalimat perintah yang berarti wajib. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa seorang muslim yang sudah mampu dari segi ilmu agama, fisik, dan finansial, wajib hukumnya mengerjakan haji maupun umroh.


Sedangkan, ada juga sebagian ulama terdahulu yang menyebut hukum umroh ialah sunnah, yakni jika tidak dikerjakan tidak berdosa, dan jika ditunaikan, akan mendapatkan pahala.


Mereka menggunakan hadist riwayat dari Jabir bin Abdillah, bahwa Nabi pernah ditanya mengenai umroh wajib atau tidak. Beliau lalu menjawab, “Tidak, dan ketika kau umroh maka itu lebih baik bagimu.” (HR. at-Tirmidzi). Namun, riwayat hadist ini dikatakan Imam Nawawi dalam al-Majmu Fatawanya sebagai hadist yang masih lemah (dhaif).


2. Perbedaan Haji dan Umroh dari Segi Waktu Pelaksanaan

Perbedaan haji dan umrah yang kedua dapat dilihat dari segi waktu pelaksanaannya. Seperti yang telah dibahas di atas bahwa ibadah haji sendiri memiliki waktu khusus untuk menunaikannya, yaitu pada musim haji, tepatnya di bulan-bulan harom. Bulan harom terhitung sejak bulan syawal hingga awal Zulhijah. Waktu tersebut telah difirmankan dalam Al Quran, dalam surah Al Baqoroh ayat 197 yang berbuyi,


الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال فى الحج

Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat kefasikan, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS Al-Baqarah, 197)


Sementara itu Abdullah bin Umar berkata pada Rasulullah salallahu’alayhi wa sallam, “Bulan-bulan haji Syawal, Zulqa’dah, dan 10 hari (pertama) Zulhijah” (H.R. Bukhari).


Sehingga, kita tak boleh berhaji sebelum bulan syawal dan tidak boleh mengakhirkan suatu amalan haji setelah bulan Dzulhijjah. Contohnya, jika seorang yang berhaji mulai sejak bulan Ramadhan, maka ihramnya tidak sah untuk haji, akan tetapi berubah menjadi ihram untuk umroh.


Untuk pelaksanaan ibadah umroh sendiri, waktunya akan lebih leluasa, yaitu sepanjang tahun, karena di dalamnya tidak terdapat rukun wukuf di Arafah, yang dilakukan pada 9 Zulhijah.


3. Perbedaan Haji dan Umroh Berdasarkan Syaratnya

Selanjutnya, ada perbedaan dari segi syarat dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh. Syarat ini sifatnya wajib untuk dipenuhi terlebih dahulu sebelum melakukan kedua ibadah ini. Kira-kira apa saja perbedaan dari syarat antara haji maupun umroh?


a. Syarat Menunaikan Haji

Ibadah haji diwajibkan atas orang muslim dengan lima syarat yang tertulis dalam Al Quran juga hadist-hadist Nabi salallahu’alayhi wa sallam, yakni:


• Islam

Syarat utama orang yang ingin beribadah haji harus beragama Islam. Bagi orang non Muslim yang beribadah, maka tidak diangga[ sah dan tidak akan mendapat pahala apapun, karena ia tidak memenuhi syarat utama yaitu Islam.


• Berakal

Orang yang ingin berhaji harus berakal, atau sadar, dalam artian tidak dalam keadaan gila atau sakit hilang ingatan. Tak hanya syarat untuk menunaikan haji, syarat ini juga berlaku untuk beberapa ibadah umat Islam, termasuk solat dan haji.


• Baligh

Seperti yang dilihat, banyak jamaah haji yang membawa anak kecil terutama warga jazirah Arab. Hal ini tidak ada larangan, namun sang anak tidak boleh membuat kegaduhan atau merepotkan jamaah haji lainnya. Bagi sang anak yang belum baligh, pahala hajinya dihitung sebagai ibadah sunnah. Artinya, ia belum mengantongi ibadah haji yang rukun dalam hidupnya, dan saat baligh nanti sang anak masih masih harus menunaikan minimal satu kali, jika mampu.


Tanda-tanda baligh bagi seorang anak laki-laki antara lain adanya perubahan suara, mimpi basah, dan keluarnya rambut di sekitar kemaluannya. Beberapa pertanda itu juga berlaku bagi anak perempuan, tetapi terdapat tambahan yaitu sudah haid dan nifas khusus perempuan.


• Memiliki Kemampuan Perbekalan dan Kendaraan

Ibadah haji dianggap ibadah yang cukup berat bagi umat muslim yang jauh dari jazirah Arab. Oleh karenanya, Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam memberikan syarat keempat ini, yakni memiliki kemampuan.


Dengan seluruh penjelasan tadi, kamu juga perlu mencatat bahwa orang yang diwajibkan untuk melaksanakan haji adalah bagi orang-orang yang mampu. Jadi, jika kamu mampu secara keuangan atau finansial, itu tandanya kamu wajib menunaikan ibadah haji.


b. Syarat Mampu bagi Laki-laki dan Perempuan

Ada beberapa syarat kemampuan bagi laki-laki dan perempuan


• Syarat Pertama: Mampu Sisi Bekal, Kendaraan, dan Ongkos

Mampu dari sisi bekal dan kendaraan, atau mampu membayar ongkos menuju Baitullah. Selain itu, memiliki kelebihan nafkah bagi keluarga yang ditinggal dan yang diberi nafkah. Kedua, memiliki kelebihan kebutuhan keluarga berupa tempat tinggal dan juga pakaian.


• Syarat Kedua: Mampu Secara Kesehatan Fisik

Selanjutnya adalah sehat badannya. Pemerintah Indonesia memiliki aturan ketat terkait kesehatan jamaah, karena beratnya ibadah ini. Tak sedikit orang yang ingin berangkat, namun ketika tes kesehatan, tidak memenuhi persyaratan. Ada pula beberapa jamaah yang harus dirawat terlebih dahulu, dioperasi terlebih dahulu, dan lain sebagainya.


• Syarat Ketiga: Kemampuan dan Rasa Aman

Selanjutnya adalah jalan penuh rasa aman, dan mampu melakukan perjalanan.


• Syarat Khusus untuk Perempuan

Ada satu syarat khusus bagi perempuan yang harus dipenuhi untuk menunaikan ibadah haji, yaitu wajib ditemani suami atau mahrom, dan tidak berada dalam masa ‘iddah.


• Merdeka dari Perbudakan

Merdeka dari perbudakan dalam artian bukan merupakan budak belian, yang terjadi pada zaman Rasulullah dan sahabat. Sedangkan saat ini, hal tersebut sudah sangat jarang yang tidak menyanggupinya.


c. Syarat Umroh

Untuk syarat menunaikan ibadah umroh sendiri, Imam Ibnu Katsir menerangkan, “Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi melakukan umroh sebanyak empat kali, dan semuanya beliau kerjakan pada bulan Dzulqo’dah, yaitu Umroh Hudaibiyyah pada tahun ke 6 H, Umratul Qadha’ pada tahun ke 7 H, Umroh Ji’ranah pada tahun ke 8 H, dan umroh terakhir saat Haji Wada’ di tahun ke 10 H.”


Sebelum melakukan ibadah umroh, ada baiknya kita melihat apakah sudah memenuhi syarat wajibnya atau belum. Sebaliknya, jika kita termasuk ke dalam semua syarat wajib ini maka kita sudah bisa untuk menunaikannya.


• Beragama Islam

Beragama Islam merupakan syarat utama sebagaimana ibadah lainnya. Bersyahadat dan memeluk Agama Islam merupakan hal wajib sebagai syarat diterimanya amalan ibadah-ibadah.


• Baligh dan Berakal

Kedua, balik dan berakal. Baligh merupakan batas manusia sudah masuk ke perhitungan amalan baik atau buruk. Semua yang dilakukan manusia yang baligh akan dicatat menjadi pahalanya atau dosanya.


Untuk batasan baligh terdapat tanda-tanda seperti mimpi basah, munculnya bulu kemaluan, haid untuk perempuan, dan lainnya atau beberapa hal yang sempat dibahas pada syarat menunaikan ibadah haji di atas.


• Merdeka dari Perbudakan atau Bukan Hamba Sahaya

Di zaman ini sudah sangat jarang yang masih menerapkan perbudakan semacam ini.


• Memiliki Kemampuan

Kemampuan dalam hal ini yang dimaksud adalah finansial, kesehatan, maupun ilmu pengetahuan karena ibadah umroh juga sama beratnya dengan ibadah haji.


• Adanya Mahrom bagi Perempuan

Ditemani mahrom merupakan salah satu syarat perempuan boleh bepergian jauh di dalam Islam. Ibadah ini merupakan salah satu ibadah yang wajib bersafar, oleh karenanya perlu bersama mahrom.


4. Kewajiban Haji dan Umroh

Perbedaan antara haji dan umrah lainnya terletak pada sifat kewajibannya. Pada ibadah haji dan umroh, bagi yang ingin menunaikannya wajib menjalankan serangkaian ritual manasik, yang apabila ditinggalkan tidak membatalkan ibadah, tapi wajib diganti dengan denda.


Jadi, apa saja kewajiban dari haji dan umroh itu? Berikut beberapa hal wajib yang perlu diperhatikan untuk mengetahui perbedaan antara haji dan umrah, yang salah satu pembahasannya adalah mengenai ihram.


a. Kewajiban Haji

Dalam hal ini perlu dilakukan oleh jamaah haji. Namun beda halnya dengan rukun haji yang jika tidak dilakukan maka tidak sah, wajib haji ini jika tidak dilakukan maka harus membayar denda agar tetap sah.


Berikut tiga hal wajib haji:


Ihram di miqat yang sudah ditetapkan Rasulullah salallahu ‘alayhi wa sallam.

Jamaah wajib mabit di Muzdalifah pada malam tanggal 10 Dzulhijjah sampai tarbit fajar shadiq (waktu shubuh).

Mabit atau bermalam di Mina, pada hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Wajib haji keempat, melontar Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah ‘Aqobah. Lalu yang terakhir ialah Thawaf wada’ ketika akan pulang ke negerinya. Bagi wanita haidh boleh tidak melakukan thawaf wada’.

b. Kewajiban Umroh

Sama halnya dengan kewajiban haji, jika tak dikerjakan maka harus membayar denda agar tetap dianggap sah. Berikut wajib umroh yang perlu kamu ketahui.


Berihram di Miqat

Tidak melanggar larangan sewaktu ihram

Menjalankan rukun umroh

5. Rukun Haji dan Umroh

Jelaskan perbedaan rukun dan wajib haji dan umroh. Rukun dalam ibadah merupakan hal yang menentukan sah atau tidaknya ibadah tersebut. Hukum rukun dalam haji dan umroh adalah wajib, atau mutlak harus dilakukan jika ingin ibadahnya sah atau diterima. Salah satu perbedaan lainnya yang perlu diperhatikan pada haji dan umroh ialah dalam rukunnya.


a. Rukun Haji

Jika tadi sudah dibahas soal kewajiban haji, ada pula bahasan tentang rukun haji yang perlu diketahui. Lalu, jelaskan perbedaan rukun haji dan wajib haji. Untuk rukun haji, jika tidak di laksanakan maka ibadah haji yang kita lakukan tidak sah. Sedangkan untuk wajib haji, jika tidak di laksanakan maka hajinya tetap sah dengan membayar dam. Berikut ini adalah daftar beberapa rukun haji.

°niat ihram

°wukuf di Arafah

°thawaf

°sa’i

°memotong rambut

b. Rukun Umroh

Selain rukun haji, berikut ini adalah beberapa rukun umroh yang perlu diketahui.

°niat ihram

°thawaf

°sa’i

°memotong rambut

Dalam ibadah umroh, tidak ada rukun wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijah, adapun rukun lainnya sama dilakukan. Jamaah umroh tidak membangun tenda-tenda atau menetap di Arafah, melainkan langsung melakukan rukun lainnya.

Persamaan Haji dan Umroh

Di luar perbedaan umroh dan haji di atas, ada pula persamaan di antara keduanya, yaitu sebagai berikut.

Ibadah haji dan umrah, keduanya sama-sama akan mendatangkan pahala

Ibadah haji dan umrah diawali dengan keadaan berihram, yaitu para muhrim dan muhrimun

Ibadah haji dan umrah sama-sama dikerjakan terlebih dahulu dengan mengambil miqat makani

Terdapat beberapa rukun yang sama, yaitu ihram, thawaf, sa’i, dan tahalul

Sifatnya tidak wajib bagi yang belum mampu baik secara fisik dan keuangan sehingga tidak perlu memaksakan ibadah ini

Yuk SEGERA Daftar 

UMRAH Atau Haji !!

Contact Person : 085697243570

WhatsApp. : 085880301057













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikut 5 Rukun Umroh yang Wajib Dilakukan agar Ibadah Sempurna!

  Dalam menunaikan ibadah umroh ada rukun umroh yang wajib dilakukan. Berikut urutannya yang wajib dilaksanakan agar ibadah sempurna. Rukun ...