Selasa, 21 September 2021

UMRAH MUDAH PASTI BISA














Assalamualaikum wr.wb

Saya Executive Agen (UF) Syiar Umroh & Haji

Ayat tentang Haji dan Umroh dalam Al Quran

Innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya’ā`irillāh, fa man ḥajjal-baita awi’tamara fa lā junāḥa ‘alaihi ay yaṭṭawwafa bihimā, wa man taṭawwa’a khairan fa innallāha syākirun ‘alīm

Artinya: “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini menjelaskan kewajiban melakukan Sa’i antara Shafaa dan Marwa saat beribadah haji dan umroh. Barang siapa melaksanakannya dengan hati ikhlas karena Allah Ta’ala, maka Allah akan melihat amalan tersebut dan memberinya pahala berlimpah.

Surat Al Baqarah ayat 189
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Yas`alụnaka ‘anil-ahillah, qul hiya mawāqītu lin-nāsi wal-ḥajj, wa laisal-birru bi`an ta`tul-buyụta min ẓuhụrihā wa lākinnal-birra manittaqā, wa`tul-buyụta min abwābihā wattaqullāha la’allakum tufliḥụn

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Ayat ini menjelaskan penggunaan hilal sebagai penanda waktu-waktu ibadah, seperti haji. Selain itu, dijelaskan juga tentang larangan memasuki rumah dari belakang. Perilaku kebiasaan di masa Jahiliyah dan masa-masa awal penyebaran Islam. Memasuki rumah dari belakang saat ihram (untuk haji dan umroh) pernah dianggap sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah. Di ayat ini, Allah menjelaskan bahwa perilaku yang dianggap kebajikan adalah bertaqwa dan menjauhi maksiat.


Surat Al-Baqarah Ayat 196
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Wa atimmul-ḥajja wal-‘umrata lillāh, fa in uḥṣirtum fa mastaisara minal-hady, wa lā taḥliqụ ru`ụsakum ḥattā yablugal-hadyu maḥillah, fa mang kāna mingkum marīḍan au bihī ażam mir ra`sihī fa fidyatum min ṣiyāmin au ṣadaqatin au nusuk, fa iżā amintum, fa man tamatta’a bil-‘umrati ilal-ḥajji fa mastaisara minal-hady, fa mal lam yajid fa ṣiyāmu ṡalāṡati ayyāmin fil-ḥajji wa sab’atin iżā raja’tum, tilka ‘asyaratung kāmilah, żālika limal lam yakun ahluhụ ḥāḍiril-masjidil-ḥarām, wattaqullāha wa’lamū annallāha syadīdul-‘iqāb

Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.”

Ayat ini menjelaskan tentang perintah melaksanakan haji dan umroh secara sempurna, karena mengharap wajah Allah. Dijelaskan juga tentang kewajiban membayar fidyah, serta perintah untuk mematuhi kewajiban tersebut.

Ali Imron Ayat 96
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Inna awwala baitiw wuḍi’a lin-nāsi lallażī bibakkata mubārakaw wa hudal lil-‘ālamīn

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”.

Ayat ini menjelaskan tentang Baitullah Al Haram di Mekkah sebagai rumah pertama yang dibangun di bumi sebagai tempat beribadah kepada Allah. Rumah itu kemudian menjadi rumah penuh berkah, menjadi patokan arah kiblat, dan didatangi oleh umat muslim dari seluruh bumi untuk melaksanakan haji dan umroh.

Ali Imron Ayat 97
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Fīhi āyātum bayyinātum maqāmu ibrāhīm, wa man dakhalahụ kāna āminā, wa lillāhi ‘alan-nāsi ḥijjul-baiti manistaṭā’a ilaihi sabīlā, wa mang kafara fa innallāha ganiyyun ‘anil-‘ālamīn

Artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Pada Baitullah terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Siapa saja yang memasuki Baitullah akan merasa aman jiwanya. Dijelaskan juga bahwa melaksanakan haji ke Baitullah adalah kewajiban bagi yang mampu. Mereka yang mengingkari kewajiban haji dianggap sebagai orang ingkar, dan Allah yang Maha Kaya sesungguhnya tidak membutuhkan amalnya dan seluruh makhlukNya di semesta alam.

Al Maidah ayat 2
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuḥillụ sya’ā`irallāhi wa lasy-syahral-ḥarāma wa lal-hadya wa lal-qalā`ida wa lā āmmīnal-baital-ḥarāma yabtagụna faḍlam mir rabbihim wa riḍwānā, wa iżā ḥalaltum faṣṭādụ, wa lā yajrimannakum syana`ānu qaumin an ṣaddụkum ‘anil-masjidil-ḥarāmi an ta’tadụ, wa ta’āwanụ ‘alal-birri wat-taqwā wa lā ta’āwanụ ‘alal-iṡmi wal-‘udwāni wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Ayat ini menjelaskan batasan dan rambu Allah bagi orang beriman. Dijelaskan pula larangan untuk berperang di bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), serta larangan berburu kecuali telah selesai menyelesaikan ibadah haji. Allah juga melarang kita untuk membenci kaum yang menghalangi masuk ke Masjidil Haram hingga berbuat aniaya. Tolong-menolong dalam perbuatan dosa turut dilarang di sini.

At Taubah Ayat 19
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

A ja’altum siqāyatal-ḥājji wa ‘imāratal-masjidil-ḥarāmi kaman āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa jāhada fī sabīlillāh, lā yastawụna ‘indallāh, wallāhu lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

Artinya: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Ayat ini menjelaskan perbedaan kedudukan orang mukminin dan orang kafir di sisi Allah. Allah akan menerima amalan yang didasari keimanan. Allah tidak akan memberi taufik untuk beramal kebajikan kepada orang yang zalim.

Al Hajj Ayat 27
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ 

Wa ażżin fin-nāsi bil-ḥajji ya`tụka rijālaw wa ‘alā kulli ḍāmiriy ya`tīna ming kulli fajjin ‘amīq

Artinya: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”.


UMRAH NEW NORMAL
TANPA KENDALA BIAYA
BERANGKAT UMRAH MUDAH

Langsung Berangkat Dengan Angsuran Bulanan

*Tanpa Anggunan.
*Tanpa Sita.
*Tanpa Denda.
*Tanpa Riba.

LUNAS JIKA TUTUP USIA

Hotel MEKKAH Bintang 5 AJYAD MAKAREM
Hotel MADINAH Bintang 4 NOZOL ROYAL INN

CITILINK - LION AIR

*PAKET UMRAH GOLD 9 HARI
JAKARTA - JEDDAH

30.000.000 cash Atau 1.130.000/bulan
TANPA DP - TANPA SURVEY

HARGA SUDAH TERMASUK
√Tiket Pesawat PP CGK-JED
√Hotel Mekkah & Madinah
√Visa Umroh
√Perlengkapan Lengkap
√Makan 3 kali sehari
√Biaya PCR(swab) Test Hotel Karantina Sebelum keberangkatan di Jakarta
√Tour leader & Muhtowif
√Bus sesuai protokol covid
√Handling & Airport tax
√Asuransi covid
√Zam Zam (Mengikuti Aturan saudi)

*Harga Tidak Termasuk :
√Biaya PCR(swab) Test & Hotel Karantina Setelah Kepulangan Di Jakarta (Jika ada)
√Tiket Domestik Daerah- JKT PP
√Pasport & Vaksin Miningitis
√Pengeluaran Pribadi Yang Tidak Termasuk Dalam Paket / Program
√Biaya Admin + Asuransi
Rp.1.000.000(1Juta)

**Note : Berangkat Setelah Deposit Angsuran 3 Bulan Pertama
*Harga sewaktu-waktu berubah



JANGAN BANYAK PIKIR JIKA INGIN UMRAH
DAFTAR SAJA,SOAL BIAYA BIAR JADI URUSAN ALLAH

Kirim pesan di WhatsApp. 📲https://wa.me/message/IR4HMQ55LUUNK1
(0858-8030-1057 wa)
https://chat.whatsapp.com/IjgDXlm8Aj7Exi6CC0UtiP (UMRAH MUDAH BERSAMA UF) Mengkordinir UF 2 PPIU
1.Sindo Wisata Travel
2.Bintang Timur Travel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikut 5 Rukun Umroh yang Wajib Dilakukan agar Ibadah Sempurna!

  Dalam menunaikan ibadah umroh ada rukun umroh yang wajib dilakukan. Berikut urutannya yang wajib dilaksanakan agar ibadah sempurna. Rukun ...